MANUSIA
DAN CINTA KASIH
(TITI
STIAWATI, S.SOS., M.SI)
1. Makna Kasih Sayang
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia
karangan W.J.S. Purwodarminto, kasih sayang diartikan dengan perasaan saying,
perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
Ada berbagai macam bentuk kasih sayang,
bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang dan yang disayangi.
Dalam kehidupan berumah tangga kasih
sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari
cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka
di dalam berumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi
sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak
dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran,
saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan
kesatuan yang bulat dan utuh.
Bila salah satu unsur kasih sayang
hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu.
Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, akan terancamlah kebahagian rumah
tangga itu.
Yang dapat merasakan kasih sayang bukan
hanya suami atau istri atau anak-anaknya yang telah dewasa, melainkan bayi yang
masih merah pun telah dapat merasakan kasih sayang dari ayah atau ibunya.
Bayi yang masih merah telah dapat
mengenal suara atau sentuhan tangan ayah atau ibunya. Bagaimana sikap ibunya
memegang atau menggendong telah dikenalnya. Hal ini dikarenakan sang bayi telah
mempunyai kepribadian. Betapa mesra ibu itu menggendong anaknya sebagai bukti
kasih sayang setulus hati. Sang bayi telah sanggup membalas kasih sayang sang
ibu dengan meraba dagu ibu.
Alangkah
bahagia ibu ini!
Semua itu sebenarnya wajar, karena tugas
seorang ibu adalah menyusui anaknya dengan kasih sayang yang tulus. Gambaran
seorang ibu yang sedang menyusui anaknya dapat kita saksikan setiap hari di
dunia manapun. Justru seorang ibu yang tidak dapat melaksanakan tugas itu, akan
dianggap salah oleh masyarakat, kecuali ibu itu sakit atau karena satu dan lain
hal tidak dapat menyusui anaknya.
Kasih sayang itu tampak sekali bila
seorang ibu sedang menyusui atau menggendong bayinya itu diajak bercakap-cakap,
ditimang-timang, dinyanyikan, meskipun bayi itu tak tabu arti kata-kata, lagu
dan sebagainya.1
Dapat
disimpulkan banwa :
Kasih sayang dialami oleh setiap
manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup manusia. Sejak lahir anak
telah mengenal kasih sayang, meskipun ada pula kelahiran anak tidak diharapkan,
namun hal itu termasuk perkecualian. Kelahiran anak yang tidak diharapkan,
umumnya bukan lahir karena hasil kasih sayang.
Kasih sayang yang berlebihan cenderung
merupakan pemanjaan. Pemanjaan anak berakibat kurang baik, karena umum nya anak
yang dimanjakan menjadi anak yang sombong, pemboros, tidak saleh, dan tidak
menghormati orang tua.
2. Kasih Sayang dalam Keluarga
Bila percintaan pria-wanita diakhiri
dengan perkawinan maka di dalam kehidupan berumah tangga, keluarga ini akan
menemukan kebahagiaan mereka. Cinta yang semula hanya terbatas anatara sepasang
muda-mudi, kini berkembang dengan kasih sayang terhadap si Buyung yang mungil.
Demikianlah sketsa hidup yang kita harapkan. Selanjutnya marilah kita mengikuti
getaran kalbu seorang gadis mulai dari cintanya pada si “dia” sampai pada
munculnya si “buyung”. Betulkah gadis ini berhasil menemukan kebahagiaan yang
kekal dan menyeluruh?
PADA SUATU BULAN YANG CERAH
pada suatu bulan yang
cerah
kutemui sepasang mata
kujumpai sebuah hati
baja
mendenyut kejantanan di
buluh-buluh nadinya
menggunung kasih sayang
di hatinya;
ia datang padaku
mengulurkan tangan
padaku
berkata ia sebuah rumah
yang teduh
aku seorang penghuni
yang setia
datanglah padanya
pada suatu bulan yang
cerah
kupasrahkan hatiku
atasnya
dan ia menyambutku
dan dunia ketawa gelak
kami gelak
ia rumah yang teduh dan
aku penghuni yang setia
kami bersatu
demikian berbulan lewat
tangan kami bekerja
sigap
menanam benih bakal
hari datang kami
dan pada suatu bulan yang cerah
kami lahir kembali
mataku diambilnya
kulitnya ditirunya
anak kami !
kami bawa ia ke gereja
kami serahkan pada
Jesus gembala
ketika tangan pendeta,
melekat di kepalanya
matanya bercahaya,
tangannya bergerak dan
kakinya menyepak-nyepak
ia amat manis dan sehat
tapi pada suatu bulan yang cerah
ia hilang dari
pandangan kami
matanya terpejam dan
hati kami tertikam
kami bawa ia ke
rumahnya yang baru
rumah yang sunyi
jauh dari kehidupan
jauh dari cahaya terang
pada suatu bulan yang
cerah
kami duduk diberanda
depan
di tanganku buaian dan
di tangannya boneka
kami berdiaman
tapi kami yakin kami
akan lahir kembali
kami akan ke gereja
kembali mendukungnya
dan kami akan beri ia
nama matahari kehidupan
demikian pada suatu
bulan yang cerah
hati kami kembali
bertautan
POPPY HUTAGALUNG
Sastra, Th. I No. 3, Juli 1961
Zeman sekarang ini banyak orang
merasakan bahwa kebahagiaan itu adalah suatu keadaan abstrak yang sulit
dicapai. Sebetulnya masih ada banyak jalan untuk menemukan kebahagiaan atau
setidak-tidaknya untuk mengurangi pukulan badai kehidupan. Memang seringkali
manusia tidak dapat lolos dari kesu litan sosial dan ekonomi. Namun dengan
membangun kasih sayang yang erat dalam keluarga make setidak-tidaknya kita
me-rnpunyai suatu tempat damai dan teduh di tengah kemelutnya persoalan hidup.
Dalam sajak Pada Suatu Bulan Yang Cerah kita dapati sketsa seorang wanita yang
melukiskan kasih sayang seperti tersebut di atas itu dalam kata-kata “ia rumah
yang teduh dan aku penghuni yang setia/kami bersatu”. Wanita ini kemudian
membangun keluarganya dengan menanamkan kasih sayang yang lebih kokoh lagi.
“tangan
kami bekerja sigap
menanam
benih bekal hari datang kami”
Dengan
nilai kasih sayang yang luhur dan kokoh, kemudian dicapainya kebahagiaan
menyeluruh sewaktu ia merasakan bahwa
“Kami lahir kembali
mataku diambilnya
kulihat ditirunya
anak kami !
Namun
badai kehidupan tidak selalu dapat dielakkan dan
“…….
pada suatu bulan yang cerah
ia
hilang dari pandangan kami
matanya
terpejam dan hari kami tertikam”
Bila
kebahagiaan direnggut seperti itu, seringkali manusia akan kandas dalam
frustasi. Tapi beruntunglah wanita ini melandasi perkawinan dengan nilai kasih-
sayang dan nilai-nilai ke Tuhanan yang kokoh sehingga dengan tabahnya ia
berkata
“tapi
kami yakin akan lahir kembali
kami
akan ke gereja kembali mendukungnya”
Namun patut disayangkan bahwa kasih -
sayang sebagai norma atau nilai hidup yang luhur seringkali sudah ditinggalkan
orang. Pada pertengahan tahun 1986, sebuah majalah di AS, People, melaporkan
hasil penelitian bahwa temyata dua pertiga pria berkeluarga berkhianat terhadap isterinya.
Contoh yang menggemparkan adalah kasus Gary Hart, calon Presiden AS tahun 1986,
yang mengandaskan karir dan kebahagiaanya dalam pelukan Donna Rice, seseorang
aktris molek. Dan payahnya masyarakat, bahkan di Indonesia terutama di kota besar,
tampaknya bisa menerima gaya kehidupan masa kini yang makin luntur norma ikatan
kasih - sayangnya. Betapa sering kita mendengar teman kita bergosip tentang
keluarga si anu yang mulai retak. Atau ternyata salah seorang tetangga kita
temyata adalah isteri kedua pejabat si anu atau simpanan pengasuh itu. Kira
hanya bisa dibikin tak habis mengerti mengapa sampai ada orang seperti Gary
Hart dengan prospek karir yang cerah, memiliki isteri yang cantik, anak-anak
yang sehat dan memiliki kehidupan sosial terpandang rela mengambil resiko gagal
dalam kehidupan karena mening galkan nilai-nilai kasih sayang yang luhur. 2
3. Makna Kemesraan
Kemesraan pada dasarnya merupakan
perwujudan kasih yang telah mendalam.
Filsuf Rusia, Salovjev dalam bukunya “MAKNA KASIH”
menyatakan “jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secara serius,
ia terlempar ke luar dari cinta diri. Ia mulai hidup untuk orang lain.”
Pernyataan ini dijabarkan secara indah
oleh William Shakespeare dalam kisah “Romeo dan Juliet”. Bila di Indonesia
kisah Rara Mendut Pranacitra.
Yose Ortega Y Gasser dalam novelnya “On
Love” mengatakan, “di kedalaman sanubarinya seorang pencinta merasa dirinya
bersatu tanpa syarat dengan objek cintanya Persatuan bersifat kebersamaan yang
mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”.
Selanjutnya Yose mengatakan, bahwa si
pencinta tidaklah akan kehilangan pribadinya dalam aliran energi cinta
tersebut. Malahan pribadinya akan diperkaya, dan dibebaskan. Cinta yang
demikian merupakan pintu bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri.
Di bawah sorotan pandangan evolusi, cinta menjadi lebih agung lagi,
karena ia merupakan daya pemersatu dalam alam semesta, dan kondisi utama yang
memungkinkan hidup. Kemampuan mencintai ini memberi nilai pada hidup kita, dan
menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam
evolusi kita.
Dari uraian di atas terlihat betapa
agung dan sucinya cinta itu. Bila seseorang mengobral cinta, maka orang itu
merusak nilai cinta, yang berarti menurunkan martabat dirinya sendiri
.
Cinta yang berlanjut menimbulkan
pengertian mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan dari cinta.
Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia. Dengan
kemesraan orang dapat menciptakan
berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
Hubungan yang akrab dituangkan dalam bentuk
seni misalnya seni pahat, seni patung, seni lukis, seni sastra, dan sebagainya
sesuai dengan bakatnya. Dalam seni tari berbagai daerah mengenal bentuk tari
kemesraan seperti tari “Karonsih” dari Jawa Tengah, tari “Gatot kaca Gandrung”
juga dari Jawa Tengah. Tari “Merak” dari Jawa Barat, dan lain-lain yang
biasanya ditarikan dalam resepsi perkawinan.
Dalam seni musik, lagu kemesraan hampir
tiap menit kita dengar melalui radio atau alas media elektronika yang lain.
Lagu-lagu kemesraan antara lain : “Cinta” ciptaan Rinto Harahap, “Mimpi-mimpi Tinggallah Mimpi”
ciptaan Tirto Saputro dan lain-lain.
Dalam kehidupan manusia terdapat
berbagai kasus kemesraan. Di dalam drama TVRI yang berjudul TIGOR, betapa pun
mesra hubungan Tigor dengan Minah, namun orang tua Minah, Jaya Kepruk semula
tak menginginkan hubungan anaknya dengan Tigor, pemuda “seberang”.
Tigor pemuda dari Tapanuli, bertugas di
daerah Jaya Kepruk untuk membantu pembangunan daerah itu. Ia mendukung gagasan
Pak Lurah yang bermaksud membuat saluran air dengan mengorbankan sebagian tanah
sawah Jaya Kepruk, tetapi gagasan itu sangat menguntungkan orang banyak.
Jaya Kepruk tidak setuju gagasan ini,
karena akan merugikan dia. Karena itu, ia sangat benci terhadap Tigor, pemuda “seberang”.
Tigor tinggal di rumah janda Jaya
Kepruk. Janda Jaya Kepruk memperingatkan Tigor, agar ia mengurungkan niatnya
meminang Minah. Hal ini karena ia tahu sifat dan tabiat Jaya Kepruk. Bila Tigor
ke rumah Jaya Kepruk dengan maksud meminang Minah, maka dapat diibaratkan
sebagai masuk mulut harimau.
Tigor yang berhati lurus pantang
menyerah. Ia tetap datang ke rumah Jaya Kepruk untuk meminang Minah.
Kedatangannya disambut oleh Jaya Kepruk dengan muka seram. Tetapi Tigor tidak
gentar sedikitpun. Terjadilah dialog antara Jaya Kepruk dengan Tigor :
Jaya Kepruk : “Mengapa kamu melamar anak saya ?”
Tigor :
“Saya cinta kepada Minah !”
Jaya Kepruk : “Kau tidak takut kepadaku ?’’
Tigor :
“Apa sebab saya takut kepada bapak ? Saya tidak takut kepada siapa-siapa, saya
hanya takut kepada Tuhan”.
Karena Tigor dianggap pemuda yang
berkepribadian tegas dan berani karena benar, akhirnya Jaya Kepruk mengizinkan
Tigor mengawini anaknya, Minah. Terjadi lagi dialog :
Jaya Kepruk :
“Kau boleh kawin dengan anakku, tetapi tidak boleh kau bawa pulang ke Sumatera”.
Tigor :
“Minah akan saya bawa pulang ke daerah karena saya berjanji kepada orang tuaku,
selesai sekolahku, aku akan membangun daerahku”.
Jaya Kepruk :”Kalau kau pulang, pulanglah. Minah tak usah dibawa”.
Tigor :”Apa sebab, Pak
Jaya Kepruk :”Minah tidak bisa berbahasa Batak. Nanti di sana tidak bisa
ngomong apa-apa.
Tigor :
“Oh, tidak, Pak. Kami di sana tidak mempergunakan bahasa Batak. Kami
mempergunakan bahasa Indonesia”.
Akhirnya Jaya Kepruk mengizinkan Minah
dibawa suaminya, Tigor ke daerahnya. Karena ia sadar bahwa Tapanuli (Daerah
Batak) itu juga tanah airnya dan bahasa Indonesia, juga bahasanya yang dipakai
oleh rakyat di seluruh Indonesia
.
Dalam drama TVRI itu, kita jumpai
nilai-nilai manusia, penyadaran pengertian bangsa, bahasa, dan tanah air. Tokoh
Tigor yang dikatakan pemuda “seberang” oleh orang kampung di daerah Jawa
Tengah, berhati lurus sesuai dengan namanya, dan bertanggung jawab atas segala
ucapan dan tindakannya.
Jaya Kepruk tidak setuju gagasan Lurah
yang merugikan dirinya. Tigor mendukung gagasan itu, demi kepentingan orang
banyak. la mencintai Minah, anak Jaya Kepruk, tetapi dukungan terhadap gagasan
Lurah tetap tak dicabut dan tak mengendor. Kepribadian kuat seperti itulah yang
dibutuhkan untuk membangun tanah air yang kita cintai ini.
Dapat
disimpulkan bahwa :
Kemesraan adalah hubungan akrab antara
pria-wanita atau suami - istri. Kemesraan merupakan bagian hidup manusia. Di
dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus kemesraan. Kemesraan dapat
membangkitkan daya kreatifitas menusia untuk menciptakan atau menikmati seni
budaya, seni sastra, seni musik, seni tari, seni lukis, dan sebagainya.
Dalam lukisan seni budaya itu mengandung
nilai-nilai kehidupan, moral pelakunya, kebobrokan sosial, ketidakadilan, dan
sebaginya. Semua itu wajib dikaji para cendekia agar dirinya tidak terkukung dalam
bidangnya.
4.
Makna Pemujaan
Pemujaan adalah perwujudan cinta manusia
kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia. Hal ini, dikarenakan pemujaan kepada Tuhan adalah inti,
nilai, dan makan kehidupan yang sebenarnya. Penyebab hal itu terjadi adalah
karena Tuhan pencipta alam semesta. Seperti dalam surat Al-Furqan ayat 59-60
yang menyatakan: “Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa di
antara keduanya dalam enam rangkaian massa, kemudian Dia bertahta di atas
singgasana-Nya. Dia Maha Pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya tentang
soal-soal apa yang perlu diketahui”. Selanjutnya ayat 60, “Bila dikatakan
kepada mereka, Sujudlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih”.
Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juga
penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintah-Nya. Karena itu
ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan
itu manusia memuja-Nya. Dalam surat Al-Mukminin ayat 98 dinyatakan : “Dan aku
berlindung kepadaMu. Ya, Tuhanku, dari kehadiran-Nya di dekatku”. Dan dalam
Injil surat Rum 1 : 2 berbunyi, “Muliakanlah Dia sebagai Allah atau mengucapkan
syukur kepada-Nya”.
Karena itu jelaslah bagi kita semua,
bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian-bidup manusia, karena Tuhan pencipta
semesta termasuk manusia itu sendiri. Dan penciptaan semesta untuk manusia.
Kalau manusia cinta kepada Tuhan, karena
Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kecintaan manusia itu
dimanifestasikan dalam bentuk pemujaan atau sembahyang. Dalam surat An-Nur ayat
41 antara lain dinyatakan : “Apakah engkau tidak tahu bahwasanya Allah itu
dipuja oleh segala yang ada di langit dan bumi…”
a. Cara
pemujaan
Dalam kehidupan manusia terdapat
berbagai cara pemujaan sesuai dengan agama, kepercayaan, kondisi dan situasi.
Sembah yang di rumah, di masjid, di gereja, di pura, di candi bahkan di
tempat-tempat yang dianggap keramat merupakan perwujudan dari pemujaan kepada
Tuhan atau yang dianggap Tuhan.
Di alam semesta ini tidak ada seorang
pun yang membantah bahwa Tuhan itu pencipta segala-galanya. Bahwa Tuhan Maha
Penguasa, Tuhan Maha Tahu, Tuhan Maha Menentukan, Tuhan Maha Bijak, Tuhan Maha
Kasih dan masih banyak maka lagi sifat Tuhan, tidak ada yang menyangkal.
Dalam kehidupan sehari-hari orang
menyatakan. “Tuhan telah menggariskan” dan lain-lain. Itu semua pertanda orang
mengakui kebesaran Tuhan.
Oleh karena itu, pemujaan-pemujaan itu
sebenarnya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. Hal itu berarti
manusia mohon ampun atas segala dosanya, mohon perlindungan, mohon dilimpahkan
kebijaksanaan, agar ditunjukkan jalan yang benar, dan lain-lain.
Bila setiap hari sekian kali manusia
memuja kebesaran-Nya dan selalu mohon apa yang kita inginkan, dan Tuhan selalu
mengabulkan permintaan umat-Nya, maka wajarlah cinta manusia kepada Tuhan
adalah cinta mutlak. Cinta yang tidak dapat ditawartawar lagi. Alangkah
besarnya dosa kita, apabila kita tidak mencintai-Nya, meskipun hanya sekejap.
b.
Tempat pemujaan
Masjid Gereja, Candi, Pura, dan
lain-lain lagi adalah tempat manusia berkomunikasi dengan Tuhannya atau yang
dianggap Tuhan. Di tempat-tempat itu dianggap Tuhan “berada”, karena itu orang
Islam menamakan masjid “rumah Allah”, maka wajarlah tempat-tempat itu dibuat
sebagus mungkin, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan karena tempat itu
dianggap suci, maka tidaklah pantas dan tidak wajar bila tempat-tempat itu
dipergunakan untuk segala keperluan, kecuali keperluan untuk membesarkan nama
Tuhan.
Apabila masyarakat berhasil membangun
tempat memuja, tempat manusia berkomunikasi dengan Tuhan atau yang dianggap
Tuhan sebesar dan seindah mungkin, maka banggalah masyarakat itu. Kebanggan itu
adalah kepuasan batinnya akan kemaksimalan cintanya, pengabdiannya kepada
Tuhan. Bangsa Indonesia memiliki Borobudur sebagai tempat pemujaan agama Budha
yang tidak ada duanya di dunia pada jamannya. Untuk itu bangsa Indonesia
bangga, meskipun bangsa Indonesia yang tinggal di sekitar candi Borobudur pada
waktu ini tidak lagi memeluk agama Budha. Hal ini merupakan bukti akan
kemaksimalan bangsa Indonesia pada waktu itu akan cintanya kepada “Tuhannya”.
Banyak pemeluk agama yang berusaha membangun tempat pemujaan sebesar dan
sebagus mungkin.
c.
Berbagai seni sebagai manifestasi pemujaan
Seperti dikemukakan di depan cinta
menimbulkan daya kreatifitas pencintanya. Pengertiaan kreatifitas antara lain
ialah mencipta. Dalam seni pahat banyak kita jumpai arca-arca yang
menggambarkan dewa-dewa atau sesuatu yang dipujanya. Sudah tentu tinggi
rendahnya hasil seni itu bergantung kepada kemampuan penciptanya.
Seni tari pun ada pula yang bersifat
mengagungkan nama Tuhan atau yang dianggap “tuhan”. Misalnya tari Sanghyang Dedari
dan tari Sanghyang Jaran di Bali .adalah tarian bersifat keagamaan. Tari itu
hanya ditarikan pada upacara agama dan tidak boleh ditonton oleh para turis,
penontonnya sangat terbatas. Lagi pula tarian itu ditarikan pada dini hari
tidak sembarang waktu. . 4
Yang berhubungan dengan kepercayaan, di
Jawa tidak diungkapkan dalam bentuk tari, melainkan dalam bentuk wayang kulit.
Dalang wayang kulit dianggap orang yang lebih daripada orang awam. Dalam wayang
kulit ini ada cerita yang hanya diceritakan atas dasar permintaan orang, bila
orang itu “meruwat”. Orang meruwat maksudnya akan membebaskan anaknya dari
bahaya. Anak yang perlu diruwat ialah : anak tunggal, dua orang anak laki-laki
semua, dua orang anak laki-laki dan perempuan, lima anak laki-laki semua, dan
sebagainya. Dalam cerita itu, anak yang diruwat dibebaskan dari ancaman Batara
Kala.
Dalam cerita Ramayana, pada waktu
gugurnya Kumbakama, kepada Kumbakama di “larung” di Samudera Hindia (Laut
Selatan) dengan suatu upacara. Itu semua menandakan adanya hubungan cerita
dengan kepercayaan.
Di barat (Yunani Kuno) tempat asal
drama; semula drama diadakan berhubungan dengan upacara agama. Kambing yang
dihias begitu rupa diarak beramai-ramai keliling kota, pasar, dan sebagainya.
Bila perhatian orang cukup besar, maka arak-arak melambatkan diri atau berhenti
untuk memberikan kesempatan pada seorang narator untuk mengisahkan dewa yang
rohnya dianggap masuk ke dalam badan kambing, yang diarak itu.
Di Bali, ada pula hal seperti itu, yaitu
tari Sanghyang Jaran (kuda). Jaran tersebut dihias begitu rupa dan dikelilingi
orang-orang yang sedang menari. Konon “jaran” tersebut akan kerasukan roh dewa
yang dimaksud. Selain itu, di Bali ada pula drama seperti di Barat, yaitu drama
rituil “Calon Arang”.
Dalam seni musik, banyak juga
didendangkan lagu yang bersifat mengagungkan nama Tuhan. Nyanyian gereja semua
mengagungkan nama Tuhan. Lagu-lagu keagungan Tuhan tidak hanya terdapat dalam
agama Kristen atau Katholik saja, `agama Islam, agama Hindu Bali, dan agama
Budha pun mengenal lagu-lagu keagungan Tuhan. Bahkan dalam lagu-lagu modern pun
ada lagu yang mengagungkan nama Tuhan, seperti lagu “Tuhan” ciptaan Bimbo.
TUHAN
Tuhan
Tuhan
Yang Maha Esa
Tempat
aku memuja.
Dengan
segala doa
Aku
jauh, Engkau jauh
Aku
dekat, Engkau dekat
Hati
hanyalah cermin
Tempat
pahala dan dosa berpadu.
Tuhan
Tuhan
Yang Maha Esa
Tempat
aku mengadu
Dari
segala dosa.
Dalam nyanyian tersebut jelas dilukiskan
oleh Bimbo, bahwa bila kita jauh kepada Tuhan, maka Tuhan pun akan menjauh.
Bila kita dekat, Tuhan pun akan mendekat. Jadi sebenamya semua itu bergantung
kepada kita. Jelas pula Bimbo melukiskan, bahwa Tuhan tempat pahala. Sudah
tentu, bila kita mengenal dosa atau menyadari, bahwa perbuatan kita itu
berdosa. Akbirnya hanya kepada-Nya kita mohon ampun atas segala dosa kita.
Dalam seni puisi banyak sajak yang
bernafaskan keTuhanan. Baik penyair angkatan Pujangga Baru seperti Amir Hamzah,
Tatengkeng, maupun penyair Angkatan '45 seperti Chairil Anwar, Ripai Apin, Asrul Sani dan sebagainya, atau
penyair Angkatan '66 seperti Sapardi Joko Damono, Andang Jaya, Rendra, dan
lain-lain banyak menulis sejak yang bernafaskan kebesaran Tuhan.
Dapat
disimpulkan bahwa :
Pemujaan terhadap Tuhan pada hakikatnya
merupakan manifestasi cinta kepada Tuhan. Cinta membangkitkan daya kreatifitas.
Pengertian dasar kreatifitas adalah mencipta, menemukan, berkarya, mencari
bentuk-bentuk yang dapat mewujudkan hubungan yang misterius. Dalam mencari
bentuk-bentuk ini pemujaan dapat berupa : sembahyang sebagai media berkomunikasi,
membangun tempat beribadah yang sebaik dan seindah mungkin, mencipta lagu,
puisi novel, film, dan sebagainya.
5. Makna Belas Kasihan
Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3
macam cinta Pertama, cinta agape ialah cinta manusia kepada Tuhan yang
diterangkan pada kegiatan Belajar. Kedua, cinta philia ialah cinta kepada ayah
ibu (orang tua) dan saudara. Dan ketiga, cinta eros/ amor ialah cinta antara
pria dan wanita. Beda antara cinta eros dan amor ini ialah cinta eros karena
kodrati sebagai laki-laki dan perempuan, sedangkan cinta amor karena
unsur-unsur yang sulit dinalar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan
mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil.
Di samping itu masih ada cinta lagi
yaitu cinta terhadap sesama. Cinta terhadap sesama merupakan perpaduan antara
cinta agape dan cinta philia.
Cinta sesama ini diberikan istilah “belas
kasihan untuk membedakan antara cinta kepada orang tua, pria wanita, cinta
kepada Tuhan. Masih ada cinta lagi yaitu cinta kepada bangsa dan tanah air,
tetapi pada kegiatan belajar 4 ini hanya dibicarakan cinta kepada sesama.
Dalam cinta sesama ini dipergunakan
istilah belas kasihan, karena cinta di sini bukan karena cakapnya, kayanya,
cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaannya. Penderitaan ini
mengandung arti yang luas. Mungkin tua, tua dan sakit-sakitan, yatim,
yatim-piatu, penyakit yang dideritanya, dan sebagainya.
Dari surat Al-Qalam ayat 4, maka manusia
menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah perbuatan
orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah
SWT.
Perbuatan atau sifat yang menaruh belas
kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk belas
kasihan, Misalnya sanggupkah ia menggugah potensi belas kasihannya itu. Bila
orang itu tergugah hatinya maka berarti orang itu berbudi dan terpujilah oleh
Allah SWT.
Dalam esay “On Love” ada pengertian
bahwa cinta adalah rasa persatuan tanpa syarat. Itu berarti dalam rasa belas
kasihan tidak mengandung unsur “pamrih”. Belas kasihan yang kita tumpahkan
benar-benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas. Kalau kita memberikan uang
kepada pengemis agar mendapat pujian, itu berarti tidak ikhlas berarti ada
tujuan tertentu. Hal seperti itu banyak terjadi dalam masyarakat.
Dalam esay itu pula dijelaskan bahwa
orang yang menaruh belas kasihan dan yang ditumpahi belas kasihan ada
kebersamaan yang mendasar, maksudnya yang berbelas kasihan dapat merasakan
penderitaan orang yang dibelaskasihi. Cara-cara
menumpahkan belas kasihan
Dalam kehidupan banyak sekali yang harus
kita kasihi dan banyak cara kita menumpahkan rasa belas kasihan. Yang perlu
kita kasihi antara lain : yatim-piatu, orang-orang jompo yang tidak mempunyai
ahli waris, pengemis yang benar-benar tidak mampu bekerja, orang sakit di rumah
sakit, orang cacat, masyarakat kita yang hidup menderita dan sebaginya. Orang-orang
itu umumnya menderita lahir batin dan umumnya kurang tangan yang menjulur
memberikan belas kasihan.
Berbagai macam cara orang memberikan
belas kasihan bergantung kepada situasi dan kondisi. Ada yang memberikan uang,
ada yang memberikan barang, ada yang memberikan pakaian, makanan dan
sebagainya.
Bahkan Pangeran Sidharta menyatakan
belas kasihan kepada rakyatnya dengan jalan meninggalkan istana untuk menjadi
biksu. Pada suatu hari Pangeran Sidharta keluar istana diiringi oleh hamba
sahayanya secara diam-diam. Dalam perjalanan ia menjumpai orang sakit; ia
tanyakan kepada hambanya, “Kenapa orang itu?” Dijawabnya pertanyaan itu.
Kemudian bertemu orang mati, ditanyakan kepada hambanya, “Mengapa orang itu?”
Dijawabnya pertanyaan itu, maka merenunglah Pangeran Sidharta. Setibanya di
istana tergoda hatinya oleh penderitaan di luar istana dan dibandingkan dengan
kemewahan di istana.
Akhirnya ia memutuskan untuk
meninggalkan istana pergi ke hutan mencari arti hidup. Betapa pilu hati ayah
bundanya menyaksikan putra pangerannya, calon penggantinya berpakaian biksu
sedang mengemis di pasar. Sekali tidak diberi, dua kali tidak diberi, dan untuk
ketiga kali dan terakhir kali tidak juga diberi. Kembalilah ia ke hutan tempat
ia bertapa sampai hari yang diizinkan untuk mencari makan dengan cara mengemis.
Pangeran Sidharta akhirnya menjadi Budha
Gautama penyebaran agama Budha.
Belas kasihan terhadap sesama pada hakikatnya
adalah cinta kasih terhadap sesama, yang berarti melaksanakan ajaran agama.
Bahwa kita wajib mencintai sesama berarti orang itu berbudi. Berbudi perbuatan
yang dipuji oleh Allah SWT. (surat Al-qalam:4).
Cara orang menumpahkan rasa belas
kasihan bermacam-macam sesuai dengan siapa yang dibelaskasihani dan bergantung
kepada situasi dan kondisi.
Betas kasihan dapat menimbulkan daya
kreatifitas yang berarti orang yang dapat berbuat, berkarya, mencipta, mencari,
menemukan dan lain-lain. Dalam seni budaya belas kasihan dapat berupa
bermacam-macam bentuk seni : seni suara, seni puisi, seni sastra (prosa) dan
lain-lain.
Bentuk-bentuk seni budaya tersebut
mengandung nilai-nilai hidup, norma serta moral, yang bila dikaji akan
mempertinggi daya tangkap, persepsi serta penalaran dan wawasan kita.
Dapat
disimpulkan bahwa :
Keserasian berasal dari kata serasi dan
dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok,
kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran, dan
seimbang.
Dalam pengertian perpaduan misalnya,
orang berpakaian harus dipadukan warnanya bagian atas dengan bagian bawah. Atau
disesuaikan dengan kulitnya. Apabila cara memadu itu kurang cocok maka akan
merusak pandangan. Sebaliknya, bila serasi benar akan membuat orang puas
karenanya. Atau orang yang berkulit hitam kurang pantas bila memakai baju warna
hijau, karena warna itu justru menggelapkan kulitnya.
Dalam memadu rumah dan halaman orang
harus mempertimbangkan perbandingan ukuran, kalau tidak tentu hasilnya akan
mengecewakan orang yang melihatnya.
Pertentangan pun menghasilkan
keserasian. Misalnya dalam dunia musik, pada hakikatnya irama yang mengalun itu
merupakan pertentangan suara tinggi-rendah, panjang-pendek, dan keraslembut.
Keserasian identik dengan keindahan.
Sesuatu yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak serasi tidak indah.
Karena itu sebagian ahli pikir berpendapat, bahwa keindahan ialah sejumlah
kualitas pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal.Kualitas yang paling sering
disebut ialah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan
(symmetry), keseimbangan (balance) dan perlawanan/pertentangan (contrast).
Pendapat lain mengatakan, bahwa
pengalaman estetik sebagai suatu keselarasan dinamik dan perenungan yang
menyenangkan. Dalam keselarasan itu seseorang memiliki perasaan seimbang dan
tenang dan mempunyai cita rasa akan sesuatu yang berakhir dan merasa hidup
sesaat di tengah-tengah kesempurnaanya yang menyenangkan hati dan ingin
memperpanjangnya.
6. Cinta Kasih Erotis
Dalam cinta kasih persaudaraan merupakan
cinta kasih antar orang yang sama dan sebanding, sedangkan cinta kasih ibu
merupakan cinta kasih terhadap orang-orang lemah yang tanpa daya. Walaupun
terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut, kedua-duanya mempunyai
kesamaan bahwa pada hakikat nya cinta kasih tidak terbatas kepada seseorang
saja. Bila saya kasihi saudara saya, semua anak saya, di samping itu bahkan
saya kasihi semua anak-anak yang membutuhkan saya. Berlawanan dengan kedua
jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis, yaitu kehausan akan
penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang lainnya. Pada
hakikatnya cinta kasih tersebut bersifat eksklusif, bukan universal, dan juga
barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak dapat dipercaya.
Pertama-tama cinta kasih erotis kerap
kah dicampurbaurkan dengan pengalaman yang eksplosif berupa jatuh cinta, yaitu keruntuhan tiba-tiba
tembok yang sampai waktu itu terdapat di antara dua orang yang asing satu sama
lain. Tetapi, seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu pengalaman
intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakikatnya hanyalah sementara
saja. Bilamana orang asing tadi telah menjadi seorang yang diketahui secara
intim, tak ada lagi rintangan yang harus diatasi, tidak ada lagi kemesraan
tiba-tiba yang harus diperjuangkan. Pribadi yang dicintai telah dipahami orang
seperti dirinya sendiri. Atau barangkali harus dikatakan “kurang” dipahami
seperti dirinya sendiri. Apabila terdapat perasaan yang lebih mendalam terhadap
pribadi yang lain apabila orang dapat mengalami ketakterhitungkan pribadinya
sendiri, maka pribadi orang lain tidak pernah akan begitu biasa baginya, dan
keajaiban mengatasi rintangan-rintangan dapat terjadi lagi berulang-ulang tiap
hari. Tetapi, untuk kebanyakan orang, pribadinya seperti juga pribadi orang
lain, mudah dipahami cukup lengkap. Untuk mereka intimitas atau kemesraan itu
terutama diperoleh dengan cara hubungan seksual. Karena mereka mengalami
keterpisahan orang lain terutama sebagai keterpisahan fisik, maka dengan
mengadakan penyatuan fisik, orang telah mengatasi keterpisahan tersebut,
demikian anggapannya.
Di samping itu terdapat pula
faktor-faktor lain yang untuk banyak orang mempunyai arti sebagai cara-cara
mengatasi keterpisahan, seperti bercakap-cakap tentang kehidupan diri pribadi,
tentang pengharapan-pengharapan dan kecemasan-kecemasannya, menampakkan diri
dengan segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minas yang sama terhadap
dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi keterpisahan. Bahkan
dengan memperlihatkan kemarahannya, kebenciannya, dan memperlihatkan
kekurangannya menahan diri, semuanya dianggap bahwa telah dicapai intimitas.
Hal ini dapat menerangkan adanya daya tarik perversi (busuk). Yang kerap kali
terdapat di antara sepasang pengantin yang rupa-rupanya hanya dapat berdekatan
(intim) yang satu terhadap yang lain bila mereka berada di tempat tidur atau
bila mereka saling melepaskan amarahnya terhadap satu sama lain. Tetapi, semua
jenis intimitas semacam ini kian lama kian cenderung untuk berkurang. Akibatnya
ialah bahwa orang mencari hubungan cinta kasih dengan orang lain, dengan
seorang asing baru yang kemudian pada gilirannya diubah lagi menjadi dangkal
sehingga berakhir dengan keinginan untuk menaklukkannya sekali lagi, untuk
memperoleh cinta baru lagi, senantiasa dengan berilusi bahwa cinta yang baru
itu akan berbeda pula dengan yang sudah-sudah. Ilusi-ilusi ini sangat mudah
diperoleh karena sifat keinginan seksual yang sangat mudah menipu diri orang.
Keinginan seksual menuju kepada
penyatuan diri tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu fisis belaka, untuk
meredakan ketegangan yang menyakitkan. Keinginan seksual dapat distimulasi,
dirangsang oleh ketakutan karena rasa sepi, oleh keinginan untuk menaklukkan
atau untuk ditaklukkan, oleh keangkuhan, oleh keinginan untuk menyakiti, bahkan
oleh keinginan untuk memusnahkan. Semua ini dapat memberikan stimulasi yang
sama beratnya dengan cinta kasih. Rupa-rupanya keinginan seksual dengan mudah
dapat dicampuri atau distimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalam,
sedangkan cinta kasih merupakan salah satu di antaranya. Oleh karena bagi
kebanyakan orang keinginan seksual senantiasa disamakan dengan gagasan cinta
kasih, mereka mudah terbawa oleh kesimpulan yang salah bahwa mereka sedang
mencintai dan mengasihi yang lain, sedangkan yang sebenarnya terjadi ialah
bahwa mereka saling menginginkan secara fisis.
Cinta kasih dapat merangsang keinginan
untuk bersatu secara seksual. Dalam hal itu, hubungan fisis tadi tidak memperlihatkan
sifat-sifat yang rakus atau serakah dalam keinginannya untuk menaklukkan atau
untuk ditaklukkan, tetapi akan tercampur dengan kehalusan bertindak serta
kemesraan. Apabila keinginan untuk penyatuan fisis tidak dirangsang oleh cinta
kasih, apabila cinta kasih erotis tidak juga merupakan cinta kasih
persaudaraan, ia hanya akan membawa kita kepada penyatuan yang bersifat
orgiastis (pesta pora) dan sementara saja. Daya tarik seksual untuk sementara
waktu menimbulkan khayalan penyatuan. Namun, tanpa cinta kasih, sebenarnya
penyatuan ini membiarkan dua orang asing tetap berjauhan yang satu dari yang
lain seperti sebelumnya. Kadang-kadang hal itu menimbulkan rasa malu di antara
mereka, bahkan menimbulkan rasa benci yang satu terhadap yang lain, karena,
apabila khayalannya telah hilang mereka lebih-lebih merasakan keasingan mereka
yang satu terhadap yang lain. Kemesraan sama sekali bukan merupakan sublimasi
naluri-naluri seksual seperti yang diyakini oleh Freud, melainkan merupakan
hasil langsung dari cinta kasih kesaudaraan, dan terdapat baik dalam
bentuk-bentak cinta kasih fisis maupun psikis.
Dalam cinta kasih erotis terdapat
eksklusifitas yang tidak terdapat dalam cinta kasih kesaudaraan dan cinta kasih
keibuan. Ciri-ciri eksklusif dalam cinta kasih erotis ini perlu diper
bincangkan lebih lanjut. Kerap kali eksklusifitas dalam cinta kasih erotis
disalah tafsirkan dan diartikan sebagai suatu ikatan hak milik. Sering kita
jumpai sepasang orang yang sedang saling mencintai tanpa merasakan cinta kasih
terhadap setiap orang lainnya. Cinta kasih mereka sebenarnya merupakan semacam
egoisme dua orang mereka merupakan dua orang yang saling menemukan kesamaan dan
yang telah mengatasi keterpisahannya dengan cara “satu individu mewakili dua
individu”. Mereka mempunyai pengalaman mengatasi keterpisahan. Namun, karena mereka
sendiri terpisah dari sisi kemanusiaan itu, mereka tetap terpisah yang satu
dari yang lain, dan tetap asing terhadap diri sendiri. Pengalaman mereka
tentang penyatuan merupakan suatu ilusi. Cinta kasih erotis itu eksklusif,
tetapi di dalam cinta kasih kepada seseorang itu sekaligus dicintai dan
dikasihinya seluruh kemanusiaan, semua yang hidup. Cinta kasih erotis itu
eksklusif hanyalah dalam arti bahwa seseorang dapat menyatukan dirinya secara
lengkap dan intensif hanya dengan satu orang lain saja. Cinta kasih erotis
mengeklusifkan cinta kasih terhadap orang lain hanyalah dalam segi-segi fusi
erotis dan keikutsertaan selengkapnya dengan semua aspek kehidupan orang-orang
lain, tatapi bukan dalam arti cinta kasih kesaudaraan yang mendalam terhadap
orang lain.
Cinta kasih erotis, apabila ia
benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorang
sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya, dan
menerima pribadi orang lain (wanita ataupun pria) dengan jiwanya yang
sedalam-dalamnya. Pada hakikatnya, semua makhluk manusia itu identik. Kita
semuanya merupakan bagian dari satu; kita merupakan satu. Karena demikian
halnya, maka sebenarnya tak usahlah kita ambil pusing siapa yang kita cintai
dan kita kasihi. Cinta kasih pada hakikatnya merupakan suatu perbuatan kemauan,
suatu putusan untuk mengikat kehidupan dengan kehidupan seseorang lain. Hal ini
memanglah merupakan dasar gagasan bahwa suatu pernikahan tradisional, yang
kedua mempelainya tidak pernah memilih jodohnya sendiri, tetapi telah
dipilihkan untuknya oleh orang lain, yang diharapkan ialah bahwa mereka akan
saling mencintai dan mengasihi. Dalam kebudayaan Barat jaman sekarang, gagasan
ini ternyata tidak dapat diterima sama sekali. Cinta kasih dianggap sebagai
hasil suatu reaksi emosional dan spontan, seolah-olah kita dengan tiba-tiba
terpaku oleh perasaan yang tidak dapat dielakkan. Menurut pandangan ini, orang
hanya memperhatikan ciri-ciri kedua individu yang bersangkutan, dan mengabaikan
fakta bahwa semua laki-laki merupakan bagian dari Adam, dan bahwa semua
perempuan merupakan bagian dari Hawa. Ada pula orang yang memandang bahwa
faktor yang penting di dalam cinta kasih erotis itu adalah keinginan.
Mencintai dan menasihi seseorang bukan hanya merupakan perasaan yang kuat, tetapi
juga merupakan suatu putusan, suatu penilaian, suatu perjanjian. Apabila cinta
kasih hanya merupakan perasaan saja, tidak ada dasarnya untuk saling berjanji
akan mencintai dan mengasihi untuk selama-lamanya. Perasaan itu dapat timbul
dan tenggelam pula. Bagaimanakah saya dapat memastikan bahwa perasaan itu akan
menetap selama-lamanya bila perbuatan saya itu tidak mengandung suatu penilaian
dan putusan?
Dengan memperhatikan pandangan-pandangan
ini, orang dapat sampai kepada pendapat bahwa cinta kasih hanyalah merupakan
perbuatan kemauan dan mengikat diri saja sehingga pada dasarnya tidak usah
dipedulikan siapa-siapa kedua orang yang terlihat di dalamnya. Apakah pernikahan
itu diatur orang lain ataukah merupakan hasil pilihan individual, hal itu bukan
menjadi soal. Yang terpenting sesudah pernikahan itu dilangsungkan ialah bahwa
perbuatan kemauan seharusnya menjamin kelangsungan cinta kasih. Pandangan ini
rupa-rupanya mengabaikan ciri-ciri paradoks hakikat manusiawi dan cinta kasih
erotis. Kita semuanya satu, namun tiap-tiap di antara kita merupakan makhluk
unik yang khas yang tidak ada “duplikat”nya. Dalam hubungan kita dengan
orang-orang lain, paradoks itu juga berlaku. Sejauh kita merupakan Satu, kita
dapat mencintai dan mengasihi tiap-tiap orang lain secara sama dalam arti cinta
kasih persaudaraan.Tetapi, sejauh kita dalam pada itu juga berbeda,cinta kasih
erotis menurut adanya unsur-unsur sangat khas dan individual yang terdapat di
antara beberapa orang tertentu saja, tetapi tidak pada semua orang.
Dengan demikian maka, baik pandangan
bahwa cinta kasih erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan
bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain dari pada perbuatan kemau an,
kedua-duanya benar, atau lebih tepat jika dikatakan bahwa kebenaran tidak
terdapat pada yang satu, juga tidak pada yang lain. Oleh karena itu, gagasan
bahwa hubungan pernikahan mudah saja dapat diputuskan apabila orang tidak
bersukses di dalamnya, merupakan gagasan yang sama kelirunya dengan gagasan
bahwa hubungan semacam, itu, di dalam keadaan bagaimana pun, tidak boleh
diputuskan. (Bahan kuliah IBD Unpad, 1986 dikutip dari Buku ilmu Budaya Dasar
karangan M. Munandar Sulaeman hal. 60 - 64).
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Hoegiono Drs.Ilmu Budaya Dasar dan
PKLH, IKIP Semarang Press, 1990.
2.
Hartono Drs., dkk., Ilmu Budaya Dasar, untuk Pegangan
Mahasiswa, CV. Pelangi, Surabaya, 1986.
3.
Munandar Soelaeman M. Ilmu Budaya Dasar
Sastra Pengantar, PT. Eresco, Bandung, 1987.
4.
Suyadi M.P., Drs., Ilmu Budaya Dasar,
model 1 - 3, Unika, Jakarta, 1985
5.Joko
Tri Prasetya,Drs, Ilmu Budaya Dasar, Rineka Cipta, Jakarta, 1991

Tidak ada komentar:
Posting Komentar