Minggu, 01 April 2012

MATERI ILMU BUDAYA DASAR


MANUSIA DAN CINTA KASIH
(TITI STIAWATI, S.SOS., M.SI)




1. Makna Kasih Sayang
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwodarminto, kasih sayang diartikan dengan perasaan saying, perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.

Ada berbagai macam bentuk kasih sayang, bentuk itu sesuai dengan kondisi penyayang dan yang disayangi.

Dalam kehidupan berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Percintaan muda-mudi (pria-wanita) bila diakhiri dengan perkawinan, maka di dalam berumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan, tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.

Dalam kasih sayang ini sadar atau tidak dari masing-masing pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka, sehingga keduanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.

Bila salah satu unsur kasih sayang hilang, misalnya unsur tanggung jawab, maka retaklah keutuhan rumah tangga itu. Kasih sayang yang tidak disertai kejujuran, akan terancamlah kebahagian rumah tangga itu.

Yang dapat merasakan kasih sayang bukan hanya suami atau istri atau anak-anaknya yang telah dewasa, melainkan bayi yang masih merah pun telah dapat merasakan kasih sayang dari ayah atau ibunya.

Bayi yang masih merah telah dapat mengenal suara atau sentuhan tangan ayah atau ibunya. Bagaimana sikap ibunya memegang atau menggendong telah dikenalnya. Hal ini dikarenakan sang bayi telah mempunyai kepribadian. Betapa mesra ibu itu menggendong anaknya sebagai bukti kasih sayang setulus hati. Sang bayi telah sanggup membalas kasih sayang sang ibu dengan meraba dagu ibu.

Alangkah bahagia ibu ini!

Semua itu sebenarnya wajar, karena tugas seorang ibu adalah menyusui anaknya dengan kasih sayang yang tulus. Gambaran seorang ibu yang sedang menyusui anaknya dapat kita saksikan setiap hari di dunia manapun. Justru seorang ibu yang tidak dapat melaksanakan tugas itu, akan dianggap salah oleh masyarakat, kecuali ibu itu sakit atau karena satu dan lain hal tidak dapat menyusui anaknya.

Kasih sayang itu tampak sekali bila seorang ibu sedang menyusui atau menggendong bayinya itu diajak bercakap-cakap, ditimang-timang, dinyanyikan, meskipun bayi itu tak tabu arti kata-kata, lagu dan sebagainya.1

Dapat disimpulkan banwa :

Kasih sayang dialami oleh setiap manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup manusia. Sejak lahir anak telah mengenal kasih sayang, meskipun ada pula kelahiran anak tidak diharapkan, namun hal itu termasuk perkecualian. Kelahiran anak yang tidak diharapkan, umumnya bukan lahir karena hasil kasih sayang.

Kasih sayang yang berlebihan cenderung merupakan pemanjaan. Pemanjaan anak berakibat kurang baik, karena umum nya anak yang dimanjakan menjadi anak yang sombong, pemboros, tidak saleh, dan tidak menghormati orang tua.

2. Kasih Sayang dalam Keluarga

Bila percintaan pria-wanita diakhiri dengan perkawinan maka di dalam kehidupan berumah tangga, keluarga ini akan menemukan kebahagiaan mereka. Cinta yang semula hanya terbatas anatara sepasang muda-mudi, kini berkembang dengan kasih sayang terhadap si Buyung yang mungil. Demikianlah sketsa hidup yang kita harapkan. Selanjutnya marilah kita mengikuti getaran kalbu seorang gadis mulai dari cintanya pada si “dia” sampai pada munculnya si “buyung”. Betulkah gadis ini berhasil menemukan kebahagiaan yang kekal dan menyeluruh?


 PADA SUATU BULAN YANG CERAH

pada suatu bulan yang cerah
kutemui sepasang mata
kujumpai sebuah hati baja
mendenyut kejantanan di buluh-buluh nadinya
menggunung kasih sayang di hatinya;
ia datang padaku
mengulurkan tangan padaku
berkata ia sebuah rumah yang teduh
aku seorang penghuni yang setia
datanglah padanya

pada suatu bulan yang cerah
kupasrahkan hatiku atasnya
dan ia menyambutku
dan dunia ketawa gelak
kami gelak
ia rumah yang teduh dan aku penghuni yang setia
kami bersatu
demikian berbulan lewat
tangan kami bekerja sigap
menanam benih bakal hari datang kami

dan pada  suatu bulan yang cerah
kami lahir kembali
mataku diambilnya
kulitnya ditirunya
anak kami !
kami bawa ia ke gereja
kami serahkan pada Jesus gembala
ketika tangan pendeta, melekat di kepalanya
matanya bercahaya,
tangannya bergerak dan kakinya menyepak-nyepak
ia amat manis dan sehat

tapi pada suatu bulan yang cerah
ia hilang dari pandangan kami
matanya terpejam dan hati kami tertikam
kami bawa ia ke rumahnya yang baru
rumah yang sunyi
jauh dari kehidupan
jauh dari cahaya terang

pada suatu bulan yang cerah
kami duduk diberanda depan
di tanganku buaian dan di tangannya boneka
kami berdiaman

tapi kami yakin kami akan lahir kembali
kami akan ke gereja kembali mendukungnya
dan kami akan beri ia nama matahari kehidupan
demikian pada suatu bulan yang cerah
hati kami kembali bertautan

POPPY HUTAGALUNG
Sastra, Th. I  No. 3, Juli 1961

Zeman sekarang ini banyak orang merasakan bahwa kebahagiaan itu adalah suatu keadaan abstrak yang sulit dicapai. Sebetulnya masih ada banyak jalan untuk menemukan kebahagiaan atau setidak-tidaknya untuk mengurangi pukulan badai kehidupan. Memang seringkali manusia tidak dapat lolos dari kesu litan sosial dan ekonomi. Namun dengan membangun kasih sayang yang erat dalam keluarga make setidak-tidaknya kita me-rnpunyai suatu tempat damai dan teduh di tengah kemelutnya persoalan hidup. Dalam sajak Pada Suatu Bulan Yang Cerah kita dapati sketsa seorang wanita yang melukiskan kasih sayang seperti tersebut di atas itu dalam kata-kata “ia rumah yang teduh dan aku penghuni yang setia/kami bersatu”. Wanita ini kemudian membangun keluarganya dengan menanamkan kasih sayang yang lebih kokoh lagi.

“tangan kami bekerja sigap
menanam benih bekal hari datang kami”

Dengan nilai kasih sayang yang luhur dan kokoh, kemudian dicapainya kebahagiaan menyeluruh sewaktu ia merasakan bahwa

“Kami lahir kembali
mataku diambilnya
kulihat ditirunya
anak kami !

Namun badai kehidupan tidak selalu dapat dielakkan dan

“……. pada suatu bulan yang cerah
ia hilang dari pandangan kami
matanya terpejam dan hari kami tertikam”

Bila kebahagiaan direnggut seperti itu, seringkali manusia akan kandas dalam frustasi. Tapi beruntunglah wanita ini melandasi perkawinan dengan nilai kasih- sayang dan nilai-nilai ke Tuhanan yang kokoh sehingga dengan tabahnya ia berkata

“tapi kami yakin akan lahir kembali
kami akan ke gereja kembali mendukungnya”

Namun patut disayangkan bahwa kasih - sayang sebagai norma atau nilai hidup yang luhur seringkali sudah ditinggalkan orang. Pada pertengahan tahun 1986, sebuah majalah di AS, People, melaporkan hasil penelitian bahwa temyata dua pertiga pria  berkeluarga berkhianat terhadap isterinya. Contoh yang menggemparkan adalah kasus Gary Hart, calon Presiden AS tahun 1986, yang mengandaskan karir dan kebahagiaanya dalam pelukan Donna Rice, seseorang aktris molek. Dan payahnya masyarakat, bahkan di Indonesia terutama di kota besar, tampaknya bisa menerima gaya kehidupan masa kini yang makin luntur norma ikatan kasih - sayangnya. Betapa sering kita mendengar teman kita bergosip tentang keluarga si anu yang mulai retak. Atau ternyata salah seorang tetangga kita temyata adalah isteri kedua pejabat si anu atau simpanan pengasuh itu. Kira hanya bisa dibikin tak habis mengerti mengapa sampai ada orang seperti Gary Hart dengan prospek karir yang cerah, memiliki isteri yang cantik, anak-anak yang sehat dan memiliki kehidupan sosial terpandang rela mengambil resiko gagal dalam kehidupan karena mening galkan nilai-nilai kasih sayang yang luhur. 2

3. Makna Kemesraan

Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih yang telah mendalam.

Filsuf  Rusia, Salovjev dalam bukunya “MAKNA KASIH” menyatakan “jika seorang pemuda jatuh cinta pada seorang gadis secara serius, ia terlempar ke luar dari cinta diri. Ia mulai hidup untuk orang lain.”

Pernyataan ini dijabarkan secara indah oleh William Shakespeare dalam kisah “Romeo dan Juliet”. Bila di Indonesia kisah Rara Mendut Pranacitra.

Yose Ortega Y Gasser dalam novelnya “On Love” mengatakan, “di kedalaman sanubarinya seorang pencinta merasa dirinya bersatu tanpa syarat dengan objek cintanya Persatuan bersifat kebersamaan yang mendasar dan melibatkan seluruh eksistensinya”.

Selanjutnya Yose mengatakan, bahwa si pencinta tidaklah akan kehilangan pribadinya dalam aliran energi cinta tersebut. Malahan pribadinya akan diperkaya, dan dibebaskan. Cinta yang demikian merupakan pintu bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri.

Di bawah sorotan pandangan  evolusi, cinta menjadi lebih agung lagi, karena ia merupakan daya pemersatu dalam alam semesta, dan kondisi utama yang memungkinkan hidup. Kemampuan mencintai ini memberi nilai pada hidup kita, dan menjadi ukuran terpenting dalam menentukan apakah kita maju atau tidak dalam evolusi kita.

Dari uraian di atas terlihat betapa agung dan sucinya cinta itu. Bila seseorang mengobral cinta, maka orang itu merusak nilai cinta, yang berarti menurunkan martabat dirinya sendiri
.
Cinta yang berlanjut menimbulkan pengertian mesra atau kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan dari cinta.


Kemesraan dapat menimbulkan daya kreativitas manusia. Dengan kemesraan  orang dapat menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.

Hubungan yang akrab dituangkan dalam bentuk seni misalnya seni pahat, seni patung, seni lukis, seni sastra, dan sebagainya sesuai dengan bakatnya. Dalam seni tari berbagai daerah mengenal bentuk tari kemesraan seperti tari “Karonsih” dari Jawa Tengah, tari “Gatot kaca Gandrung” juga dari Jawa Tengah. Tari “Merak” dari Jawa Barat, dan lain-lain yang biasanya ditarikan dalam resepsi perkawinan.      

Dalam seni musik, lagu kemesraan hampir tiap menit kita dengar melalui radio atau alas media elektronika yang lain. Lagu-lagu kemesraan antara lain : “Cinta” ciptaan  Rinto Harahap, “Mimpi-mimpi Tinggallah Mimpi” ciptaan Tirto Saputro dan lain-lain.

Dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus kemesraan. Di dalam drama TVRI yang berjudul TIGOR, betapa pun mesra hubungan Tigor dengan Minah, namun orang tua Minah, Jaya Kepruk semula tak menginginkan hubungan anaknya dengan Tigor, pemuda “seberang”.

Tigor pemuda dari Tapanuli, bertugas di daerah Jaya Kepruk untuk membantu pembangunan daerah itu. Ia mendukung gagasan Pak Lurah yang bermaksud membuat saluran air dengan mengorbankan sebagian tanah sawah Jaya Kepruk, tetapi gagasan itu sangat menguntungkan orang banyak.

Jaya Kepruk tidak setuju gagasan ini, karena akan merugikan dia. Karena itu, ia sangat benci terhadap Tigor, pemuda “seberang”.

Tigor tinggal di rumah janda Jaya Kepruk. Janda Jaya Kepruk memperingatkan Tigor, agar ia mengurungkan niatnya meminang Minah. Hal ini karena ia tahu sifat dan tabiat Jaya Kepruk. Bila Tigor ke rumah Jaya Kepruk dengan maksud meminang Minah, maka dapat diibaratkan sebagai masuk mulut harimau.

Tigor yang berhati lurus pantang menyerah. Ia tetap datang ke rumah Jaya Kepruk untuk meminang Minah. Kedatangannya disambut oleh Jaya Kepruk dengan muka seram. Tetapi Tigor tidak gentar sedikitpun. Terjadilah dialog antara Jaya Kepruk dengan Tigor :

Jaya Kepruk        : “Mengapa kamu melamar anak saya ?”
Tigor                    : “Saya cinta kepada Minah !”
Jaya Kepruk        : “Kau tidak takut kepadaku ?’’
Tigor                    : “Apa sebab saya takut kepada bapak ? Saya tidak takut kepada siapa-siapa, saya hanya takut kepada Tuhan”.


Karena Tigor dianggap pemuda yang berkepribadian tegas dan berani karena benar, akhirnya Jaya Kepruk mengizinkan Tigor mengawini anaknya, Minah. Terjadi lagi dialog :


Jaya Kepruk        : “Kau boleh kawin dengan anakku, tetapi tidak boleh kau bawa pulang ke Sumatera”.
Tigor                    : “Minah akan saya bawa pulang ke daerah karena saya berjanji kepada orang tuaku, selesai sekolahku, aku akan membangun daerahku”.
Jaya Kepruk        :”Kalau kau pulang, pulanglah. Minah tak usah dibawa”.
Tigor                    :”Apa sebab, Pak
Jaya Kepruk        :”Minah tidak bisa berbahasa Batak. Nanti di sana tidak bisa ngomong apa-apa.
Tigor                    : “Oh, tidak, Pak. Kami di sana tidak mempergunakan bahasa Batak. Kami mempergunakan bahasa Indonesia”.

Akhirnya Jaya Kepruk mengizinkan Minah dibawa suaminya, Tigor ke daerahnya. Karena ia sadar bahwa Tapanuli (Daerah Batak) itu juga tanah airnya dan bahasa Indonesia, juga bahasanya yang dipakai oleh rakyat di seluruh Indonesia
.
Dalam drama TVRI itu, kita jumpai nilai-nilai manusia, penyadaran pengertian bangsa, bahasa, dan tanah air. Tokoh Tigor yang dikatakan pemuda “seberang” oleh orang kampung di daerah Jawa Tengah, berhati lurus sesuai dengan namanya, dan bertanggung jawab atas segala ucapan dan tindakannya.

Jaya Kepruk tidak setuju gagasan Lurah yang merugikan dirinya. Tigor mendukung gagasan itu, demi kepentingan orang banyak. la mencintai Minah, anak Jaya Kepruk, tetapi dukungan terhadap gagasan Lurah tetap tak dicabut dan tak mengendor. Kepribadian kuat seperti itulah yang dibutuhkan untuk membangun tanah air yang kita cintai ini.

Dapat disimpulkan bahwa :

Kemesraan adalah hubungan akrab antara pria-wanita atau suami - istri. Kemesraan merupakan bagian hidup manusia. Di dalam kehidupan manusia terdapat berbagai kasus kemesraan. Kemesraan dapat membangkitkan daya kreatifitas menusia untuk menciptakan atau menikmati seni budaya, seni sastra, seni musik, seni tari, seni lukis, dan sebagainya.
Dalam lukisan seni budaya itu mengandung nilai-nilai kehidupan, moral pelakunya, kebobrokan sosial, ketidakadilan, dan sebaginya. Semua itu wajib dikaji para cendekia agar dirinya tidak terkukung dalam bidangnya.


4. Makna Pemujaan
Pemujaan adalah perwujudan cinta manusia kepada Tuhan. Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini, dikarenakan pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai, dan makan kehidupan yang sebenarnya. Penyebab hal itu terjadi adalah karena Tuhan pencipta alam semesta. Seperti dalam surat Al-Furqan ayat 59-60 yang menyatakan: “Dia yang menciptakan langit dan bumi beserta apa-apa di antara keduanya dalam enam rangkaian massa, kemudian Dia bertahta di atas singgasana-Nya. Dia Maha Pengasih, maka tanyakanlah kepada-Nya tentang soal-soal apa yang perlu diketahui”. Selanjutnya ayat 60, “Bila dikatakan kepada mereka, Sujudlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih”.

Tuhan adalah pencipta, tetapi Tuhan juga penghancur segalanya, bila manusia mengabaikan segala perintah-Nya. Karena itu ketakutan manusia selalu mendampingi hidupnya dan untuk menghilangkan ketakutan itu manusia memuja-Nya. Dalam surat Al-Mukminin ayat 98 dinyatakan : “Dan aku berlindung kepadaMu. Ya, Tuhanku, dari kehadiran-Nya di dekatku”. Dan dalam Injil surat Rum 1 : 2 berbunyi, “Muliakanlah Dia sebagai Allah atau mengucapkan syukur kepada-Nya”.

Karena itu jelaslah bagi kita semua, bahwa pemujaan kepada Tuhan adalah bagian-bidup manusia, karena Tuhan pencipta semesta termasuk manusia itu sendiri. Dan penciptaan semesta untuk manusia.

Kalau manusia cinta kepada Tuhan, karena Tuhan sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kecintaan manusia itu dimanifestasikan dalam bentuk pemujaan atau sembahyang. Dalam surat An-Nur ayat 41 antara lain dinyatakan : “Apakah engkau tidak tahu bahwasanya Allah itu dipuja oleh segala yang ada di langit dan bumi…”

a.    Cara pemujaan
Dalam kehidupan manusia terdapat berbagai cara pemujaan sesuai dengan agama, kepercayaan, kondisi dan situasi. Sembah yang di rumah, di masjid, di gereja, di pura, di candi bahkan di tempat-tempat yang dianggap keramat merupakan perwujudan dari pemujaan kepada Tuhan atau yang dianggap Tuhan.
Di alam semesta ini tidak ada seorang pun yang membantah bahwa Tuhan itu pencipta segala-galanya. Bahwa Tuhan Maha Penguasa, Tuhan Maha Tahu, Tuhan Maha Menentukan, Tuhan Maha Bijak, Tuhan Maha Kasih dan masih banyak maka lagi sifat Tuhan, tidak ada yang menyangkal.

Dalam kehidupan sehari-hari orang menyatakan. “Tuhan telah menggariskan” dan lain-lain. Itu semua pertanda orang mengakui kebesaran Tuhan.

Oleh karena itu, pemujaan-pemujaan itu sebenarnya karena manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhannya. Hal itu berarti manusia mohon ampun atas segala dosanya, mohon perlindungan, mohon dilimpahkan kebijaksanaan, agar ditunjukkan jalan yang benar, dan lain-lain.

Bila setiap hari sekian kali manusia memuja kebesaran-Nya dan selalu mohon apa yang kita inginkan, dan Tuhan selalu mengabulkan permintaan umat-Nya, maka wajarlah cinta manusia kepada Tuhan adalah cinta mutlak. Cinta yang tidak dapat ditawartawar lagi. Alangkah besarnya dosa kita, apabila kita tidak mencintai-Nya, meskipun hanya sekejap.


b. Tempat pemujaan
Masjid Gereja, Candi, Pura, dan lain-lain lagi adalah tempat manusia berkomunikasi dengan Tuhannya atau yang dianggap Tuhan. Di tempat-tempat itu dianggap Tuhan “berada”, karena itu orang Islam menamakan masjid “rumah Allah”, maka wajarlah tempat-tempat itu dibuat sebagus mungkin, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan karena tempat itu dianggap suci, maka tidaklah pantas dan tidak wajar bila tempat-tempat itu dipergunakan untuk segala keperluan, kecuali keperluan untuk membesarkan nama Tuhan.

Apabila masyarakat berhasil membangun tempat memuja, tempat manusia berkomunikasi dengan Tuhan atau yang dianggap Tuhan sebesar dan seindah mungkin, maka banggalah masyarakat itu. Kebanggan itu adalah kepuasan batinnya akan kemaksimalan cintanya, pengabdiannya kepada Tuhan. Bangsa Indonesia memiliki Borobudur sebagai tempat pemujaan agama Budha yang tidak ada duanya di dunia pada jamannya. Untuk itu bangsa Indonesia bangga, meskipun bangsa Indonesia yang tinggal di sekitar candi Borobudur pada waktu ini tidak lagi memeluk agama Budha. Hal ini merupakan bukti akan kemaksimalan bangsa Indonesia pada waktu itu akan cintanya kepada “Tuhannya”. Banyak pemeluk agama yang berusaha membangun tempat pemujaan sebesar dan sebagus mungkin.

c. Berbagai seni sebagai manifestasi pemujaan
Seperti dikemukakan di depan cinta menimbulkan daya kreatifitas pencintanya. Pengertiaan kreatifitas antara lain ialah mencipta. Dalam seni pahat banyak kita jumpai arca-arca yang menggambarkan dewa-dewa atau sesuatu yang dipujanya. Sudah tentu tinggi rendahnya hasil seni itu bergantung kepada kemampuan penciptanya.

Seni tari pun ada pula yang bersifat mengagungkan nama Tuhan atau yang dianggap “tuhan”. Misalnya tari Sanghyang Dedari dan tari Sanghyang Jaran di Bali .adalah tarian bersifat keagamaan. Tari itu hanya ditarikan pada upacara agama dan tidak boleh ditonton oleh para turis, penontonnya sangat terbatas. Lagi pula tarian itu ditarikan pada dini hari tidak sembarang waktu. . 4

Yang berhubungan dengan kepercayaan, di Jawa tidak diungkapkan dalam bentuk tari, melainkan dalam bentuk wayang kulit. Dalang wayang kulit dianggap orang yang lebih daripada orang awam. Dalam wayang kulit ini ada cerita yang hanya diceritakan atas dasar permintaan orang, bila orang itu “meruwat”. Orang meruwat maksudnya akan membebaskan anaknya dari bahaya. Anak yang perlu diruwat ialah : anak tunggal, dua orang anak laki-laki semua, dua orang anak laki-laki dan perempuan, lima anak laki-laki semua, dan sebagainya. Dalam cerita itu, anak yang diruwat dibebaskan dari ancaman Batara Kala.

Dalam cerita Ramayana, pada waktu gugurnya Kumbakama, kepada Kumbakama di “larung” di Samudera Hindia (Laut Selatan) dengan suatu upacara. Itu semua menandakan adanya hubungan cerita dengan kepercayaan.

Di barat (Yunani Kuno) tempat asal drama; semula drama diadakan berhubungan dengan upacara agama. Kambing yang dihias begitu rupa diarak beramai-ramai keliling kota, pasar, dan sebagainya. Bila perhatian orang cukup besar, maka arak-arak melambatkan diri atau berhenti untuk memberikan kesempatan pada seorang narator untuk mengisahkan dewa yang rohnya dianggap masuk ke dalam badan kambing, yang diarak itu.

Di Bali, ada pula hal seperti itu, yaitu tari Sanghyang Jaran (kuda). Jaran tersebut dihias begitu rupa dan dikelilingi orang-orang yang sedang menari. Konon “jaran” tersebut akan kerasukan roh dewa yang dimaksud. Selain itu, di Bali ada pula drama seperti di Barat, yaitu drama rituil “Calon Arang”.

Dalam seni musik, banyak juga didendangkan lagu yang bersifat mengagungkan nama Tuhan. Nyanyian gereja semua mengagungkan nama Tuhan. Lagu-lagu keagungan Tuhan tidak hanya terdapat dalam agama Kristen atau Katholik saja, `agama Islam, agama Hindu Bali, dan agama Budha pun mengenal lagu-lagu keagungan Tuhan. Bahkan dalam lagu-lagu modern pun ada lagu yang mengagungkan nama Tuhan, seperti lagu “Tuhan” ciptaan Bimbo.

TUHAN
Tuhan
Tuhan Yang Maha Esa
Tempat aku memuja.
Dengan segala doa
Aku jauh, Engkau jauh
Aku dekat, Engkau dekat
Hati hanyalah cermin
Tempat pahala dan dosa berpadu.
Tuhan
Tuhan Yang Maha Esa
Tempat aku mengadu
Dari segala dosa.

Dalam nyanyian tersebut jelas dilukiskan oleh Bimbo, bahwa bila kita jauh kepada Tuhan, maka Tuhan pun akan menjauh. Bila kita dekat, Tuhan pun akan mendekat. Jadi sebenamya semua itu bergantung kepada kita. Jelas pula Bimbo melukiskan, bahwa Tuhan tempat pahala. Sudah tentu, bila kita mengenal dosa atau menyadari, bahwa perbuatan kita itu berdosa. Akbirnya hanya kepada-Nya kita mohon ampun atas segala dosa kita.

Dalam seni puisi banyak sajak yang bernafaskan keTuhanan. Baik penyair angkatan Pujangga Baru seperti Amir Hamzah, Tatengkeng, maupun penyair Angkatan '45 seperti Chairil Anwar, Ripai     Apin, Asrul Sani dan sebagainya, atau penyair Angkatan '66 seperti Sapardi Joko Damono, Andang Jaya, Rendra, dan lain-lain banyak menulis sejak yang bernafaskan kebesaran Tuhan.

Dapat disimpulkan bahwa :

Pemujaan terhadap Tuhan pada hakikatnya merupakan manifestasi cinta kepada Tuhan. Cinta membangkitkan daya kreatifitas. Pengertian dasar kreatifitas adalah mencipta, menemukan, berkarya, mencari bentuk-bentuk yang dapat mewujudkan hubungan yang misterius. Dalam mencari bentuk-bentuk ini pemujaan dapat berupa : sembahyang sebagai media berkomunikasi, membangun tempat beribadah yang sebaik dan seindah mungkin, mencipta lagu, puisi novel, film, dan sebagainya.

5. Makna Belas Kasihan
Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta Pertama, cinta agape ialah cinta manusia kepada Tuhan yang diterangkan pada kegiatan Belajar. Kedua, cinta philia ialah cinta kepada ayah ibu (orang tua) dan saudara. Dan ketiga, cinta eros/ amor ialah cinta antara pria dan wanita. Beda antara cinta eros dan amor ini ialah cinta eros karena kodrati sebagai laki-laki dan perempuan, sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit dinalar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau dinikahi seorang pemuda yang kerdil.

Di samping itu masih ada cinta lagi yaitu cinta terhadap sesama. Cinta terhadap sesama merupakan perpaduan antara cinta agape dan cinta philia.

Cinta sesama ini diberikan istilah “belas kasihan untuk membedakan antara cinta kepada orang tua, pria wanita, cinta kepada Tuhan. Masih ada cinta lagi yaitu cinta kepada bangsa dan tanah air, tetapi pada kegiatan belajar 4 ini hanya dibicarakan cinta kepada sesama.

Dalam cinta sesama ini dipergunakan istilah belas kasihan, karena cinta di sini bukan karena cakapnya, kayanya, cantiknya, pandainya, melainkan karena penderitaannya. Penderitaan ini mengandung arti yang luas. Mungkin tua, tua dan sakit-sakitan, yatim, yatim-piatu, penyakit yang dideritanya, dan sebagainya.

Dari surat Al-Qalam ayat 4, maka manusia menaruh belas kasihan kepada orang lain, karena belas kasihan adalah perbuatan orang yang berbudi. Sedangkan orang yang berbudi sangat dipujikan oleh Allah SWT.

Perbuatan atau sifat yang menaruh belas kasihan adalah orang yang berakhlak. Manusia mempunyai potensi untuk belas kasihan, Misalnya sanggupkah ia menggugah potensi belas kasihannya itu. Bila orang itu tergugah hatinya maka berarti orang itu berbudi dan terpujilah oleh Allah SWT.

Dalam esay “On Love” ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuan tanpa syarat. Itu berarti dalam rasa belas kasihan tidak mengandung unsur “pamrih”. Belas kasihan yang kita tumpahkan benar-benar keluar dari lubuk hati yang ikhlas. Kalau kita memberikan uang kepada pengemis agar mendapat pujian, itu berarti tidak ikhlas berarti ada tujuan tertentu. Hal seperti itu banyak terjadi dalam masyarakat.

Dalam esay itu pula dijelaskan bahwa orang yang menaruh belas kasihan dan yang ditumpahi belas kasihan ada kebersamaan yang mendasar, maksudnya yang berbelas kasihan dapat merasakan penderitaan orang yang dibelaskasihi. Cara-cara menumpahkan belas kasihan

Dalam kehidupan banyak sekali yang harus kita kasihi dan banyak cara kita menumpahkan rasa belas kasihan. Yang perlu kita kasihi antara lain : yatim-piatu, orang-orang jompo yang tidak mempunyai ahli waris, pengemis yang benar-benar tidak mampu bekerja, orang sakit di rumah sakit, orang cacat, masyarakat kita yang hidup menderita dan sebaginya. Orang-orang itu umumnya menderita lahir batin dan umumnya kurang tangan yang menjulur memberikan belas kasihan.

Berbagai macam cara orang memberikan belas kasihan bergantung kepada situasi dan kondisi. Ada yang memberikan uang, ada yang memberikan barang, ada yang memberikan pakaian, makanan dan sebagainya.

Bahkan Pangeran Sidharta menyatakan belas kasihan kepada rakyatnya dengan jalan meninggalkan istana untuk menjadi biksu. Pada suatu hari Pangeran Sidharta keluar istana diiringi oleh hamba sahayanya secara diam-diam. Dalam perjalanan ia menjumpai orang sakit; ia tanyakan kepada hambanya, “Kenapa orang itu?” Dijawabnya pertanyaan itu. Kemudian bertemu orang mati, ditanyakan kepada hambanya, “Mengapa orang itu?” Dijawabnya pertanyaan itu, maka merenunglah Pangeran Sidharta. Setibanya di istana tergoda hatinya oleh penderitaan di luar istana dan dibandingkan dengan kemewahan di istana.

Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan istana pergi ke hutan mencari arti hidup. Betapa pilu hati ayah bundanya menyaksikan putra pangerannya, calon penggantinya berpakaian biksu sedang mengemis di pasar. Sekali tidak diberi, dua kali tidak diberi, dan untuk ketiga kali dan terakhir kali tidak juga diberi. Kembalilah ia ke hutan tempat ia bertapa sampai hari yang diizinkan untuk mencari makan dengan cara mengemis.

Pangeran Sidharta akhirnya menjadi Budha Gautama penyebaran agama Budha.

Belas kasihan terhadap sesama pada hakikatnya adalah cinta kasih terhadap sesama, yang berarti melaksanakan ajaran agama. Bahwa kita wajib mencintai sesama berarti orang itu berbudi. Berbudi perbuatan yang dipuji oleh Allah SWT. (surat Al-qalam:4).

Cara orang menumpahkan rasa belas kasihan bermacam-macam sesuai dengan siapa yang dibelaskasihani dan bergantung kepada situasi dan kondisi.

Betas kasihan dapat menimbulkan daya kreatifitas yang berarti orang yang dapat berbuat, berkarya, mencipta, mencari, menemukan dan lain-lain. Dalam seni budaya belas kasihan dapat berupa bermacam-macam bentuk seni : seni suara, seni puisi, seni sastra (prosa) dan lain-lain.

Bentuk-bentuk seni budaya tersebut mengandung nilai-nilai hidup, norma serta moral, yang bila dikaji akan mempertinggi daya tangkap, persepsi serta penalaran dan wawasan kita.

Dapat disimpulkan bahwa :

Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran, dan seimbang.

Dalam pengertian perpaduan misalnya, orang berpakaian harus dipadukan warnanya bagian atas dengan bagian bawah. Atau disesuaikan dengan kulitnya. Apabila cara memadu itu kurang cocok maka akan merusak pandangan. Sebaliknya, bila serasi benar akan membuat orang puas karenanya. Atau orang yang berkulit hitam kurang pantas bila memakai baju warna hijau, karena warna itu justru menggelapkan kulitnya.

Dalam memadu rumah dan halaman orang harus mempertimbangkan perbandingan ukuran, kalau tidak tentu hasilnya akan mengecewakan orang yang melihatnya.

Pertentangan pun menghasilkan keserasian. Misalnya dalam dunia musik, pada hakikatnya irama yang mengalun itu merupakan pertentangan suara tinggi-rendah, panjang-pendek, dan keraslembut.

Keserasian identik dengan keindahan. Sesuatu yang serasi tentu tampak indah dan yang tidak serasi tidak indah. Karena itu sebagian ahli pikir berpendapat, bahwa keindahan ialah sejumlah kualitas pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal.Kualitas yang paling sering disebut ialah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance) dan perlawanan/pertentangan (contrast).
Pendapat lain mengatakan, bahwa pengalaman estetik sebagai suatu keselarasan dinamik dan perenungan yang menyenangkan. Dalam keselarasan itu seseorang memiliki perasaan seimbang dan tenang dan mempunyai cita rasa akan sesuatu yang berakhir dan merasa hidup sesaat di tengah-tengah kesempurnaanya yang menyenangkan hati dan ingin memperpanjangnya.

6. Cinta Kasih Erotis
Dalam cinta kasih persaudaraan merupakan cinta kasih antar orang yang sama dan sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang lemah yang tanpa daya. Walaupun terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut, kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakikat nya cinta kasih tidak terbatas kepada seseorang saja. Bila saya kasihi saudara saya, semua anak saya, di samping itu bahkan saya kasihi semua anak-anak yang membutuhkan saya. Berlawanan dengan kedua jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis, yaitu kehausan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang lainnya. Pada hakikatnya cinta kasih tersebut bersifat eksklusif, bukan universal, dan juga barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak dapat dipercaya.

Pertama-tama cinta kasih erotis kerap kah dicampurbaurkan dengan pengalaman yang eksplosif  berupa jatuh cinta, yaitu keruntuhan tiba-tiba tembok yang sampai waktu itu terdapat di antara dua orang yang asing satu sama lain. Tetapi, seperti yang telah dikatakan terlebih dahulu pengalaman intimitas, kemesraan yang tiba-tiba ini pada hakikatnya hanyalah sementara saja. Bilamana orang asing tadi telah menjadi seorang yang diketahui secara intim, tak ada lagi rintangan yang harus diatasi, tidak ada lagi kemesraan tiba-tiba yang harus diperjuangkan. Pribadi yang dicintai telah dipahami orang seperti dirinya sendiri. Atau barangkali harus dikatakan “kurang” dipahami seperti dirinya sendiri. Apabila terdapat perasaan yang lebih mendalam terhadap pribadi yang lain apabila orang dapat mengalami ketakterhitungkan pribadinya sendiri, maka pribadi orang lain tidak pernah akan begitu biasa baginya, dan keajaiban mengatasi rintangan-rintangan dapat terjadi lagi berulang-ulang tiap hari. Tetapi, untuk kebanyakan orang, pribadinya seperti juga pribadi orang lain, mudah dipahami cukup lengkap. Untuk mereka intimitas atau kemesraan itu terutama diperoleh dengan cara hubungan seksual. Karena mereka mengalami keterpisahan orang lain terutama sebagai keterpisahan fisik, maka dengan mengadakan penyatuan fisik, orang telah mengatasi keterpisahan tersebut, demikian anggapannya.

Di samping itu terdapat pula faktor-faktor lain yang untuk banyak orang mempunyai arti sebagai cara-cara mengatasi keterpisahan, seperti bercakap-cakap tentang kehidupan diri pribadi, tentang pengharapan-pengharapan dan kecemasan-kecemasannya, menampakkan diri dengan segi-segi keanehannya, mengadakan hubungan dan minas yang sama terhadap dunia sekitar, semuanya itu dilaksanakan untuk mengatasi keterpisahan. Bahkan dengan memperlihatkan kemarahannya, kebenciannya, dan memperlihatkan kekurangannya menahan diri, semuanya dianggap bahwa telah dicapai intimitas. Hal ini dapat menerangkan adanya daya tarik perversi (busuk). Yang kerap kali terdapat di antara sepasang pengantin yang rupa-rupanya hanya dapat berdekatan (intim) yang satu terhadap yang lain bila mereka berada di tempat tidur atau bila mereka saling melepaskan amarahnya terhadap satu sama lain. Tetapi, semua jenis intimitas semacam ini kian lama kian cenderung untuk berkurang. Akibatnya ialah bahwa orang mencari hubungan cinta kasih dengan orang lain, dengan seorang asing baru yang kemudian pada gilirannya diubah lagi menjadi dangkal sehingga berakhir dengan keinginan untuk menaklukkannya sekali lagi, untuk memperoleh cinta baru lagi, senantiasa dengan berilusi bahwa cinta yang baru itu akan berbeda pula dengan yang sudah-sudah. Ilusi-ilusi ini sangat mudah diperoleh karena sifat keinginan seksual yang sangat mudah menipu diri orang.

Keinginan seksual menuju kepada penyatuan diri tetapi sekali-kali bukan merupakan nafsu fisis belaka, untuk meredakan ketegangan yang menyakitkan. Keinginan seksual dapat distimulasi, dirangsang oleh ketakutan karena rasa sepi, oleh keinginan untuk menaklukkan atau untuk ditaklukkan, oleh keangkuhan, oleh keinginan untuk menyakiti, bahkan oleh keinginan untuk memusnahkan. Semua ini dapat memberikan stimulasi yang sama beratnya dengan cinta kasih. Rupa-rupanya keinginan seksual dengan mudah dapat dicampuri atau distimulasi oleh tiap-tiap perasaan yang mendalam, sedangkan cinta kasih merupakan salah satu di antaranya. Oleh karena bagi kebanyakan orang keinginan seksual senantiasa disamakan dengan gagasan cinta kasih, mereka mudah terbawa oleh kesimpulan yang salah bahwa mereka sedang mencintai dan mengasihi yang lain, sedangkan yang sebenarnya terjadi ialah bahwa mereka saling menginginkan secara fisis.

Cinta kasih dapat merangsang keinginan untuk bersatu secara seksual. Dalam hal itu, hubungan fisis tadi tidak memperlihatkan sifat-sifat yang rakus atau serakah dalam keinginannya untuk menaklukkan atau untuk ditaklukkan, tetapi akan tercampur dengan kehalusan bertindak serta kemesraan. Apabila keinginan untuk penyatuan fisis tidak dirangsang oleh cinta kasih, apabila cinta kasih erotis tidak juga merupakan cinta kasih persaudaraan, ia hanya akan membawa kita kepada penyatuan yang bersifat orgiastis (pesta pora) dan sementara saja. Daya tarik seksual untuk sementara waktu menimbulkan khayalan penyatuan. Namun, tanpa cinta kasih, sebenarnya penyatuan ini membiarkan dua orang asing tetap berjauhan yang satu dari yang lain seperti sebelumnya. Kadang-kadang hal itu menimbulkan rasa malu di antara mereka, bahkan menimbulkan rasa benci yang satu terhadap yang lain, karena, apabila khayalannya telah hilang mereka lebih-lebih merasakan keasingan mereka yang satu terhadap yang lain. Kemesraan sama sekali bukan merupakan sublimasi naluri-naluri seksual seperti yang diyakini oleh Freud, melainkan merupakan hasil langsung dari cinta kasih kesaudaraan, dan terdapat baik dalam bentuk-bentak cinta kasih fisis maupun psikis.

Dalam cinta kasih erotis terdapat eksklusifitas yang tidak terdapat dalam cinta kasih kesaudaraan dan cinta kasih keibuan. Ciri-ciri eksklusif dalam cinta kasih erotis ini perlu diper bincangkan lebih lanjut. Kerap kali eksklusifitas dalam cinta kasih erotis disalah tafsirkan dan diartikan sebagai suatu ikatan hak milik. Sering kita jumpai sepasang orang yang sedang saling mencintai tanpa merasakan cinta kasih terhadap setiap orang lainnya. Cinta kasih mereka sebenarnya merupakan semacam egoisme dua orang mereka merupakan dua orang yang saling menemukan kesamaan dan yang telah mengatasi keterpisahannya dengan cara “satu individu mewakili dua individu”. Mereka mempunyai pengalaman mengatasi keterpisahan. Namun, karena mereka sendiri terpisah dari sisi kemanusiaan itu, mereka tetap terpisah yang satu dari yang lain, dan tetap asing terhadap diri sendiri. Pengalaman mereka tentang penyatuan merupakan suatu ilusi. Cinta kasih erotis itu eksklusif, tetapi di dalam cinta kasih kepada seseorang itu sekaligus dicintai dan dikasihinya seluruh kemanusiaan, semua yang hidup. Cinta kasih erotis itu eksklusif hanyalah dalam arti bahwa seseorang dapat menyatukan dirinya secara lengkap dan intensif hanya dengan satu orang lain saja. Cinta kasih erotis mengeklusifkan cinta kasih terhadap orang lain hanyalah dalam segi-segi fusi erotis dan keikutsertaan selengkapnya dengan semua aspek kehidupan orang-orang lain, tatapi bukan dalam arti cinta kasih kesaudaraan yang mendalam terhadap orang lain.

Cinta kasih erotis, apabila ia benar-benar cinta kasih, mempunyai satu pendirian, yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya, dan menerima pribadi orang lain (wanita ataupun pria) dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya. Pada hakikatnya, semua makhluk manusia itu identik. Kita semuanya merupakan bagian dari satu; kita merupakan satu. Karena demikian halnya, maka sebenarnya tak usahlah kita ambil pusing siapa yang kita cintai dan kita kasihi. Cinta kasih pada hakikatnya merupakan suatu perbuatan kemauan, suatu putusan untuk mengikat kehidupan dengan kehidupan seseorang lain. Hal ini memanglah merupakan dasar gagasan bahwa suatu pernikahan tradisional, yang kedua mempelainya tidak pernah memilih jodohnya sendiri, tetapi telah dipilihkan untuknya oleh orang lain, yang diharapkan ialah bahwa mereka akan saling mencintai dan mengasihi. Dalam kebudayaan Barat jaman sekarang, gagasan ini ternyata tidak dapat diterima sama sekali. Cinta kasih dianggap sebagai hasil suatu reaksi emosional dan spontan, seolah-olah kita dengan tiba-tiba terpaku oleh perasaan yang tidak dapat dielakkan. Menurut pandangan ini, orang hanya memperhatikan ciri-ciri kedua individu yang bersangkutan, dan mengabaikan fakta bahwa semua laki-laki merupakan bagian dari Adam, dan bahwa semua perempuan merupakan bagian dari Hawa. Ada pula orang yang memandang bahwa faktor yang penting di dalam cinta kasih erotis itu adalah keinginan.

Mencintai dan menasihi seseorang bukan hanya merupakan perasaan yang kuat, tetapi juga merupakan suatu putusan, suatu penilaian, suatu perjanjian. Apabila cinta kasih hanya merupakan perasaan saja, tidak ada dasarnya untuk saling berjanji akan mencintai dan mengasihi untuk selama-lamanya. Perasaan itu dapat timbul dan tenggelam pula. Bagaimanakah saya dapat memastikan bahwa perasaan itu akan menetap selama-lamanya bila perbuatan saya itu tidak mengandung suatu penilaian dan putusan?

Dengan memperhatikan pandangan-pandangan ini, orang dapat sampai kepada pendapat bahwa cinta kasih hanyalah merupakan perbuatan kemauan dan mengikat diri saja sehingga pada dasarnya tidak usah dipedulikan siapa-siapa kedua orang yang terlihat di dalamnya. Apakah pernikahan itu diatur orang lain ataukah merupakan hasil pilihan individual, hal itu bukan menjadi soal. Yang terpenting sesudah pernikahan itu dilangsungkan ialah bahwa perbuatan kemauan seharusnya menjamin kelangsungan cinta kasih. Pandangan ini rupa-rupanya mengabaikan ciri-ciri paradoks hakikat manusiawi dan cinta kasih erotis. Kita semuanya satu, namun tiap-tiap di antara kita merupakan makhluk unik yang khas yang tidak ada “duplikat”nya. Dalam hubungan kita dengan orang-orang lain, paradoks itu juga berlaku. Sejauh kita merupakan Satu, kita dapat mencintai dan mengasihi tiap-tiap orang lain secara sama dalam arti cinta kasih persaudaraan.Tetapi, sejauh kita dalam pada itu juga berbeda,cinta kasih erotis menurut adanya unsur-unsur sangat khas dan individual yang terdapat di antara beberapa orang tertentu saja, tetapi tidak pada semua orang.

Dengan demikian maka, baik pandangan bahwa cinta kasih erotis merupakan atraksi individual belaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain dari pada perbuatan kemau an, kedua-duanya benar, atau lebih tepat jika dikatakan bahwa kebenaran tidak terdapat pada yang satu, juga tidak pada yang lain. Oleh karena itu, gagasan bahwa hubungan pernikahan mudah saja dapat diputuskan apabila orang tidak bersukses di dalamnya, merupakan gagasan yang sama kelirunya dengan gagasan bahwa hubungan semacam, itu, di dalam keadaan bagaimana pun, tidak boleh diputuskan. (Bahan kuliah IBD Unpad, 1986 dikutip dari Buku ilmu Budaya Dasar karangan M. Munandar Sulaeman hal. 60 - 64).



DAFTAR PUSTAKA
1. Hoegiono Drs.Ilmu Budaya Dasar dan PKLH, IKIP Semarang Press, 1990.
2. Hartono Drs., dkk., Ilmu Budaya Dasar, untuk Pegangan
Mahasiswa, CV. Pelangi, Surabaya, 1986.
3. Munandar Soelaeman M. Ilmu Budaya Dasar Sastra Pengantar, PT. Eresco, Bandung, 1987.
4. Suyadi M.P., Drs., Ilmu Budaya Dasar, model 1 - 3, Unika, Jakarta, 1985
5.Joko Tri Prasetya,Drs, Ilmu Budaya Dasar, Rineka Cipta, Jakarta, 1991